Sabtu, 13 Februari 2016

Penggunaan Detergen dalam Mencuci



            Kemajuan jaman mempengaruhi kemajuan gaya hidup manusia. Kemajuan jaman yang semakin kesini semakin maju dan canggih, sehingga menimbulkan gaya hidup yang lebih modern. Segala sesuatu dijaman yang serba canggih   ini tentu lebih mudah dan lebih cepat cara pengerjaannya. Kemajuan untuk alat-alat rumah tangga sangat beragam macamnya misalkan dulu memasak nasi dengan menggunakan gas dianggap paling modern, tetapi sekarang ada yang namanya penanak nasi, yah dalam bahasa kerennya rice cooker, beras yang di cuci lalu ditambahkan air dimasukkan kedalam wadah rice cooker tinggal tekan tombol cook artinya masak, tunggu beberapa saat langsung matang.
            Disini saya akan mencoba membahas tentang hal yang berkaitan dengan pakaian. Merdengar kata pakaian pasti identik dengan pakaian kotor dan pakaian bersih. Nah pakaian bersih tidak jadi masalah tapi yang jadi masalah itu pakaian kotor. Apalagi mencuci merupakan pekerjaan yang kebanyakan tidak disukai oleh ibu rumahtangga. Nah hingga muncullah terobosan baru yaitu suatu alat yang dapat mencuci sendiri pakaian yang kotor alat ini dinamakan mesin cuci. Saya pun tidak akan membahas masalah mesin cuci, lebih sederhana dari itu yaitu masalah suatu yang digunakan untuk membersihkan pakaian, ya masa pakaian bisa bersih hanya dengan menggunakan air? Ya tentu ada hal yang harus dilakukan lagi. Benar sekali, ya menggunakan detergen atau sabun colek.
            Bukankah benda tersebut tidak asing dikehidupan kita ?Bahkan dijumpai setiap hari. Keduanya sama-sama digunakan untuk mencuci pakaian, cuman terdapat sedikit perbedaannya, kalau sabun colek itu berbentuk krim sedangkan kalau detergen berbentuk butir-butiran, dan ada satu lagi terobosan baru yaitu berbentuk cair. Tapi sekarang penggunaan detergen lebih banyak digunakan dari pada sabun colek.
            Detergen ternyata berasal dari pemanfaatan bahan kimia yaitu dari hasil sempling penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna dan bahan pewangi. Ternyata detergen sudah mulai diproduksi sekitar tahun 1960an, awal cukup lama juga. Nah detergen generasi  awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (Surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat atau disingkat ABS namun ternyata bahan tersebut ternyata sulit diuraikan oleh mikroorganisme didalam tanah, maka digantilah dengan Linier Alkyl Sulfonat atau disingkat LAS diyakini relative lebih aman untuk lingkungan. Hal tersebut mengakibatkan sebagian Negara melarang penggunaan ABS dalam bahan detergen. Tetapi di Indonesia masih mengijinkan penggunaan ABS dalam detergen karena memang ABS itu harganya lebih murah dibandingkan dengan LAS, selain itu kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah itulah yang menjadi alasannya.
           
Daerah di Indonesia terdiri dari pegunungan, daratan dan lautan. Air di daerah pegunungan dan bekas rawa-rawa sulit menghasilkan busa, Karena air tersebut mengandung logam-logam tertentu atau kapur. Disinilah sering terjadi salah pemikiran, banyak orang yang beranggapan bahwa semakin banyak busa yang dihasilkan semakin baik untuk pakaian, tetapi ternyata tidak demikian karena dalam detergen terdapat surfaktan, zat tersebutlah sudah cukup untuk mengangkat kotoran yang ada dipakaian. Opini yang berkembang bahwa semakin banyak busa maka menunjukkan daya kerja detergen adalah opini yang salah dan menyesatkan.
            Untuk menghasilkan pakaian yang lebih bersih, maka gunakanlah air hangat untuk merendam pakaian yang sangat kotor, tetapi ada juga kekurangannya yaitu pakaian yang berwarna akan cepat pudar warnanya. Jadi gunakanlah untuk pakaian yang berwarna putih saja. Pemakaian detergen juga sering mengakibatkan tangan terasa panas setelah menggunakan detergen, juga terkadang membuat gatal-gatal. Hal tersebut harusnya diteliti lagi apakah benar hal tersebut dikarenakan oleh detergen atau bukan, atau hal yang lainnya. Ada dua istilah untuk menyebut hal tersebut yaitu Dermatitis KotakIritasi (DKI) dan Dermatitis Kontak Alergi (DKA) yang membedakan keduanya adalah kalau DKI biasanya reaksi gatal pada kulit muncul setelah beberapa jam sedangkan DKA beberapa hari setelah paparan.
            Tanpa mengesampingkan dampak baik dari detergen itu sendiri, tak dapat dipungkiri pastilah detergen menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan. Dampak yang paling dirasakan adalah bagi lingkungan perairan, dikarenakan detergen digunakan hampir oleh setiap rumah tangga oleh karena itu dampak yang ditimbulkan akan cepat dirasakan. Air sisa detergen yang dibuang maka pastilah tujuan akhir dari air tersebut adalah ke sumber perairan atau sungai, hal ini setelah diteliti mengakibatkan menurunnya kualitas air, mengancam kehidupan biota yang tinggal didalamnya dan hal yang jelas terlihat adalah meledaknya pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan juga mengatakan bahwa detergen dapat melarutkan bahan yang bersifat karsinogen.
            Sebenarnya dampak negatif dari penggunaan detergen itu dapat diminimalisir oleh masyarakat, usaha itu akan berhasil bila adanya tingkat kesadaran yang tinggi dari masyarakat dengan cara memilah dan memilihp roduk detergen yang lebih ramah lingkungan. Gunakanlah produk detergen yang mencantumkan bahan-bahan aktif yang ada dalam detergen tersebut yang dicantumkan pada kemasan, yang lebih penting detergen yang bersifat ramah lingkungan ditandai dengan logo berwarna hijau atau tulisan ramah lingkungan. Yang tak kalah penting gunakanlah detergen sesuai dengan petunjuk penggunaan yang baik dan benar, gunakanlah takaran saat kita akan mencuci agar hasil cucian lebih bersih dan tidak membuang detergen, berhemat juga kan? Ingat busa yang banyak tidak menjamin detergen bekerja secara baik, jadi gunakanlah sesuai pesan penggunaan.
           

0 komentar:

Posting Komentar